Kulit Telur untuk Mempercantik Produk Keramik
Produk keramik sudah banyak dikenal masyarakat sejak ratusan tahun lamanya. Namun produk keramik yang dihias dengan tempelan kulit telur unggas baru dikenal masyarakat pada dekade tahun 1990-an akhir.
Adalah Dwiyono, seorang seniman dan perajin keramik yang pertama kali mengembangkan pemanfaatan kulit telur sebagai bahan untuk menghias dan mempercantik produk keramik.
Adalah Dwiyono, seorang seniman dan perajin keramik yang pertama kali mengembangkan pemanfaatan kulit telur sebagai bahan untuk menghias dan mempercantik produk keramik.
Ide awal Dwiyono untuk memanfaatkan sisa sampah dapur berupa kulit telur itu datang begitu saja secara tidak sengaja. Pada suatu waktu di tahun 1995 Dwiyono secara tidak sengaja menginjak kulit telur sisa pembuatan nasi goreng di dapur rumahnya. Dari pecahan kulit telur yang terinjak tersebut, Dwiyono melihat motif-motif pecahan kulit telur yang menarik.
Dari situ timbulah ide untuk mencoba memanfaatkan pecahan kulit telur tersebut dalam produk keramik yang sedang digandrungi Dwiyono. Pecahan kulit telur tersebut kemudian ditempelkan dengan lem pada produk keramik untuk memunculkan motif gambar tertentu, seperti daun, bunga dan lain-lain.
Sejak itu, pikiran sarjana Teknik Sipil lulusan Universitas Gajah Mada (UGM) tahun 1985 itu selalu diganggu oleh keinginan dan gagasan untuk memanfaatkan kulit telur sebagai pembentuk motif pada produk kerajinan keramik. Karena itu, Dwiyono pun mulai melakukan berbagai eksperimen dan penelitian untuk pemanfaatan kulit telur dalam produk keramik.
Setelah tekadnya bulat untuk menceburkan diri dalam dunia keramik, pada tahun 1997 Dwiyono berhenti dari pekerjaan di sebuah perusahaan konsultan di Jakarta dengan tujuan agar dapat lebih memfokuskan diri dalam mengembangkan produk keramik kulit telur.
Keyakinan Dwiyono akan prospek pengembangan kulit telur pada produk keramik pun terus menguat bersamaan dengan ditemukannya teknik-teknik baru dalam pemanfaatan kulit telur dalam industri keramik. Dengan berbekal keyakinan tersebut maka pada tahun 1998 Dwiyono secara resmi membuka usaha keramik kulit telur dengan merek dagang Dwiyono Art.
Dwiyono harus rela menghabiskan waktu selama tiga tahun untuk melakukan eksplorasi dalam pengembangan keramik kulit telur. Pria berambut kuncir yang mengaku suka melukis sejak kecil itu kemudian melakukan penelitian kecil-kecil mengenai karakteristik telur unggas.
Melalui penelitian itu kemudian berhasil diidentifikasi warna berbagai kulit telur unggas. Kulit telur ayam ras misalnya ada sekitar 40 warna, kulit telur ayam kampung ada 10 warna dan kulit telur bebek ada sekitar 8 warna.
Kulit telur unggas yang memiliki berbagai macam warna tersebut dapat disusun untuk memperindah karya desain produk keramik seperti guci, pas bunga dan berbagai bentuk hiasan interior lainnya.
Untuk mempercantik tampilan kerajinan keramiknya, Dwiyono kadang-kadang mewarnai kulit telur yang ditempelkan pada produk keramiknya. Namun kadang-kadang kulit telur yang ditempelkan itu dibiarkan tanpa diwarnai untuk memunculkan warna aslinya.
Selama ini masyarakat menganggap kulit telur sebagai sampah dapur yang tidak berguna dan bahkan sering kali menimbulkan permasalahan lingkungan karena bersama sampah dapur lainnya sering dibuang seenaknya sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap.
Namun di mata para seniman keramik seperti Dwiyono, sampah kulit telur ternyata menyimpan sejuta pesona seni yang sangat menakjubkan.
Melalui tangan-tangan terampil para seniman keramik itulah kulit telur yang semula dianggap sebagai sampah yang tidak berguna dan sering menimbulkan masalah bagi lingkungan permukiman di masyarakat, kini memiliki nilai yang sangat berharga karena dapat dibuat menjadi karya seni keramik yang bernilai seni tinggi.
Kombinasi antara keindahan kulit telur unggas yang sangat khas dengan desain keramik karya Dwiyono telah menghasilkan karya seni keramik yang sangat menarik sehingga banyak diminati kalangan pembeli.
Pembelinya pun tidak hanya datang dari dalam negeri, tetapi juga dari mancanegara. Bahkan, penjualan keramik kulit telur Dwiyono dewasa ini penjualannya jauh lebih besar kepada pembeli asing ketimbang penjualan kepada pembeli domestik.
Sekitar 70% dari total penjualan keramik kulit telur Dwiyono adalah penjualan ekspor dan sisanya (30%) merupakan penjualan kepada pembeli domestik.
Rata-rata setiap tiga bulan sekali Dwiyono mengirimkan berbagai jenis produk keramik kulit telur sebanyak 7-8 kontainer dengan tujuan ke berbagai negara.
Penjualan ke pasar ekspor itu umumnya dilakukan berkat keikutsertaan Dwiyono dalam kegiatan pameran produk kerajinan keramik di dalam dan luar negeri. Setiap tahunnya Dwiyono mengikuti paling sedikit 3 pameran lokal dan internasional.
Dari kegiatan pameran itulah Dwiyono bertemu dan berinteraksi dengan para calon pembelinya, tidak hanya dengan pembeli dari dalam negeri tetapi juga dengan pembeli dari mancanegara.
Umumnya calon pembeli, khususnya pembeli asing, yang bertemu di pameran, melakukan kunjungan ke bengkel produksi Dwiyono di bilangan Rawamangun, Jakarta. Dari kunjungan tersebut mereka biasanya tertarik untuk membeli dan langsung memesan sejumlah produk keramik kulit telur Dwiyono.
Untuk mendukung kegiatan produksi keramik kulit telur Dwiyono Art, Dwiyono kini mempekerjakan 20 orang pegawai. Namun kalau ada pesanan dalam jumlah besar Dwiyono dapat mengerahkan 60 orang pemuda yang pernah dilatih Dwiyono dalam bidang produksi keramik.
Kelompokkelompok pemuda yang awalnya tidak memiliki pekerjaan tetap itu seringkali mendapatkan pesanan pembuatan keramik dari Dwiyono dengan standard mutu produksi yang ditetapkan oleh Dwiyono.
Dengan bantuan kelompok-kelompok kerja pemuda tersebut, kegiatan produksi keramik kulit telur Dwiyono bisa ditingkatkan dari 2-3 kontainer per bulan menjadi sekitar 5 kontainer per bulan.
Komentar
Posting Komentar