keramik hijau dop

Mestinya I Made Durya menjadi guru karena dia lulusan Pendidikan Guru Agama Hindu tahun 1985/1986. Tetapi, jalan hidupnya jauh dari profesi itu. Dia malah menjadi perajin keramik yang relatif populer di Bali. Hasil produksinya, bahkan, sudah diekspor ke Amerika Serikat, Kanada, Jerman, dan Jepang.
Waktu itu, lulusan PGA (Pendidikan Guru Agama) langsung diangkat menjadi PNS (pegawai negeri sipil). Tetapi, giliran saya selesai sekolah, eh, pengangkatan guru agama tidak ada lagi. Ya, akhirnya saya jadi perajin,” kata Durya, panggilannya, sambil tertawa ketika ditemui di bengkel kerjanya, Banjar Pamesan, Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali.
Desa Pejaten memang dikenal sebagai sentra industri gerabah yang memproduksi peralatan rumah tangga dan perlengkapan untuk upacara keagamaan. Perkembangan zaman telah memaksa perajin beralih memproduksi genteng dengan merek Genteng Pejaten. Produksi genteng itu dipasarkan di Pulau Bali dan Lombok.
Belakangan, para pemuka Desa Pejaten berinisiatif untuk melakukan diversifikasi usaha guna mengantisipasi terus penyusutan bahan baku yang suatu saat akan habis. Maka, pada awal Februari 1985, didirikanlah balai pendidikan dan pengembangan keramik di Desa Pejaten, bermitra dengan Humanisch Instituut voor Ontwikkelingssamenwerking (Hivos) yang berpusat di Belanda.
Durya bersama sejumlah perajin kemudian terlibat langsung mengikuti pelatihan membuat keramik. ”Awalnya saya merasa susah ikut pelatihan ini karena jenis bahan baku dan teknisnya jauh berbeda dengan proses membuat gerabah,” ujarnya.
Kecuali memerlukan tahapan kerja yang panjang, proses pembakaran keramik itu juga minimal dua kali dengan peralatan pembakaran bersuhu tinggi. Satu jenis produk yang siap pakai, misalnya, memerlukan tempo pengerjaan sampai dua minggu. Sekali memproduksi keramik, sekitar 5 persen yang rusak dan tidak layak jual.
Namun, dengan ketekunan yang disertai semangat untuk maju, Durya tetap mengikuti pelatihan. Dia juga belajar kepada pengusaha dan lembaga lain guna memperdalam pengetahuan tentang keramik. Hasilnya, Durya kemudian bisa menghasilkan karya-karya khas. Dari sisi dekoratif, artistik, dan fungsinya, keramik yang dia hasilkan memikat hati para konsumen.
Sebutlah ceret yang dilengkapi ornamen kupu-kupu, capung, kodok, cecak, dan binatang melata lainnya. Lalu, ada pula vas bunga, patung Buddha, piring, dan tempat sabun yang dia desain dalam beragam bentuk daun. Ada juga alat aroma terapi berupa tungku mini yang dilengkapi wadah penampung cairan pengharumnya.
Produk keramik Durya pun fungsional. Anda tidak perlu ragu menyeruput air kopi dan teh hangat dari cangkir keramik buatan Durya karena bahannya aman dari zat beracun. Suhu pembakaran keramiknya relatif tinggi sehingga dipastikan menghilangkan zat-zat beracun.
Ada sertifikat
Keramik buatan Durya juga telah memiliki sertifikat Nonlead yang diterbitkan sebuah lembaga di Amerika Serikat pada tahun 1995. Karena sertifikat itu pula, pemilik toko asal Korea yang membuka usaha di kawasan Kuta memesan botol-botol produk Durya untuk digunakan menyimpan madu.
”Pesanan yang saya terima dari dia sekitar 400 botol setiap minggu,” kata Durya yang menjual produknya seharga Rp 20.000 per buah kepada pengusaha asal Korea itu. Botol yang diisi madu kemudian dijual si pengusaha tersebut dengan harga 30 dollar AS per botol.
Nilai jual keramik itu jauh lebih tinggi dibanding harga pasar gerabah dan genteng. Durya memberikan ilustrasi, dengan satu kilogram bahan baku, harga genteng sekitar Rp 1.500 per buah. Dengan jumlah bahan baku sama, satu produk keramik bisa dijual Rp 30.000-Rp 40.000.
”Itu karena dalam produk keramik ada nilai plusnya. Keramik itu mempunyai nilai seni,” ujar Durya.
Durya telah membuat sedikitnya 200 motif keramik. Jumlah itu termasuk keramik yang motifnya dia desain sendiri ataupun yang motifnya berasal dari pesanan konsumen.
”Malah sebelum peristiwa bom Bali (Oktober 2002), kami sampai terpaksa menolak pesanan konsumen karena tidak sanggup memenuhinya,” kata Durya.
Hijau dop
Namun, semua itu tidak dicapai Durya dalam tempo singkat. Untuk bisa menembus pasar, banyak pameran telah dia ikuti. Selain berpromosi, dari pameran-pameran tersebut Durya juga mendapat banyak masukan untuk desain, mutu produk, dan strategi berpromosi.
Hijau dop pada keramik Durya, misalnya, adalah implementasi saran dan masukan dari pelanggan pula. Warna hijau dop yang mengesankan kelembutan dan kedamaian, serta paling disukai konsumen itu, juga memiliki kisah tersendiri.
Durya bercerita, suatu ketika seorang wisatawan dari AS menunjukkan barang kerajinan dengan warna hijau dop. Dia menanyakan, apakah Durya bisa membuat keramik dengan warna itu. Tak ingin mengecewakan konsumen, Durya kemudian membaca sejumlah referensi. Dia lalu membuat berbagai percobaan untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.
Tiga bulan kemudian Durya baru berhasil mendapatkan formula yang menghasilkan warna hijau dop pada keramik. Resep itu yang lalu menjadi ”rahasia perusahaan” Durya.
Dengan resep itu pula ia berhasil mengembangkan usahanya. Durya bisa menambah kompor pengering dan peralatan kerja lainnya dari hasil penjualan keramik, selain mendapatkan kredit dari bank.
Meskipun relatif tidak lagi menangani proses produksi keramik secara langsung, Durya tetap mengawasi kualitas hasil produksi. Belakangan ini waktunya lebih banyak digunakan untuk mengurusi manajemen dan pemasaran.
Aktivitas produksi lebih banyak ditangani oleh para pekerjanya yang berjumlah 25 orang. Selain memberikan lapangan kerja, cara ini menjadi bentuk untuk menularkan keahliannya kepada warga di Desa Pejaten. Para pekerja yang mengerjakan berbagai segmen dalam produksi keramik itu, memperoleh penghasilan sekitar Rp 25.000- Rp 35.000 per hari.
Dia telah berhasil membuka lapangan kerja dan pasar untuk produk keramik. Sayangnya, belakangan ini Durya justru menghadapi masalah ketiadaan bahan baku. Dia sampai harus membeli bahan baku keramik itu di Kota Denpasar. Meskipun begitu, ia sering kali masih harus menunggu kiriman dari Kalimantan Barat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

liburan ke rumah keramik

keramik sebagai suatu hasil seni dan teknologi

Kulit Telur untuk Mempercantik Produk Keramik