masyarakat mengenal produk kerajinan keramik

Sudah beradab-abad lamanya masyarakat mengenal produk kerajinan keramik, baik sebagai karya seni murni yang dapat dinikmati keindahannya maupun sebagai produk perkakas yang memiliki fungsi tertentu dalam kehidupan sehari-hari. Kini kalangan produsen keramik memadukan antara unsur keindahan dengan unsur kegunaan dari barang keramik tersebut.

Hal lain yang juga sangat penting diperhatikan oleh kalangan produsen keramik agar produk keramiknya bisa laku di pasar adalah bagaimana menciptakan produk keramik yang menarik dan disukai oleh kalangan konsumen dari berbagai kelompok masyarakat, terutama mulai dari kelompok konsumen anak-anak, remaja hingga kelompok konsumen dewasa.
Konsep pengembangan produk keramik yang dapat disukai oleh kalangan konsumen mulai dari kalangan anak-anak, remaha hingga orang dewasa itulah yang kini dilakukan Yetty V. Tamsil dengan Studio Gallery Kollekannya. Berbagai produk keramik hasil pengembangan Gallery Kollekan ternyata banyak mendapat sambutan kalangan konsumen mulai dari anak-anak, ramaja sampai orang dewasa.

Hampir setiap kali Gallery Kollekan mengikuti pameran yang bertema produk kerajinan, seperti pameran produk kerajinan berskala internasional Inacraft 2007 maupun pameran Pekan Produk Budaya 2007, stand Galloery Kollekan selalu dipenuhi para pengunjung yang tertarik untuk membeli berbagai produk kerajinan keramiknya. Salah satu produk kerajinan keramik yang dikembangkan Gallery Kollekan yang banyak menyedot perhatian kalangan pengunjung pameran diantaranya adalah hiasan dinding atau hiasan ruangan yang terbuat dari susunan huruf yang dikombinasikan dengan bentuk-bentuk binatang atau bunga kesukaan anak-anak. Semua bentuk-bentuk huruf, binatang dan bunga tersebut dibuat dari bahan keramik dengan warna glasir yang sangat menarik khususnya bagi kalangan anak-anak dan remaja.
Didirikan pada bulan Nopember 1998, Studio Gallery Kollekan memfokuskan kegiatannya dalam mengembangkan desain-desain baru produk keramik. Untuk mengembangkan dan makin mensosialisasikan produk keramik kepada masyarakat, pada tahun 1999 Yetty V. Tamsil juga membuka kursus pembuatan keramik.

Dengan latar belakang pendidikan desain interior, Yetty yang memiliki kegemaran/hobby desain dan melukis mempraktekan kebolehan dan kegemaraannya itu di studio Kollekan bersama seorang rekan seprofesinya sesama desainer produk keramik, Wati Karmojono. Yetty dan Wati bersama-sama mendirikan dan mengelola studio dan gallery tersebut.
Yetty sendiri mengenal dan belajar kerajinan keramik dengan mengikuti kursus pada sebuah lembaga kursus yang dikelola oleh Lim Keng Sien, seorang seniman keramik yang tinggal di Jakarta. Dari belajar pembuatan keramik melalui kursus tersebutlah Yetty kemudian mengembangkan dan memadukan keahlian dan talenta di bidang desain interiornya dengan pengetahuan di bidang pembuatan keramik.

Dia mengaku tidak pernah berhenti mengembangkan dan menciptakan desain-desain produk keramik baru di studionya. Dengan keuletan dan upaya pantang lelahnya, paling tidak setiap tiga bulan sekali Yetty mengeluarkan desain baru produk keramik dan memperkenalkannya kepada masyarakat melalui Gallery Kollekan.
Kini semua produk keramik hasil pengembangan desain dan berbagai kreasi produk keramik milik Yetty digelar di Gallery Kollekan. Produk-produk keramik hasil karya Yetty dikelompokkan dalam dua kelompok utama, yaitu produk keramik karya seni murni dan produk kriya atau kerajinan keramik (craft).

Kelompok produk keramik karya seni murni merupakan produk keramik sebagai wujud ekspresi seni dari pembuatnya. Untuk menciptakan produk keramik kelompok tersebut seorang desainer/pembuat keramik tidak perlu memperhatikan unsur penerimaan pasar terhadap produk tersebut. Sebab, karya-karya seni keramik yang merupakan karya seni murni bukanlah produk yang ditujukan untuk dilepas ke pasar sebagai produk komersial, tetapi lebih merupakan produk yang menggambarkan ekspresi seni dari pembuatnya.
Sementara itu, untuk produk kriya atau kerajinan keramik dalam pembuatannya, mulai dari perancangan konsep hingga penciptaan desainnya harus memperhatikan unsur penerimaan pasar. Sebab, produk kriya/kerajinan keramik memang diproduksi untuk memenuhi permintaan dan selera pasar.

Untuk pembuatan produk kriya/kerajinan keramik, Yetty rata-rata membutuhkan bahan baku tanah liat sebanyak 250 kg per bulan. Bahan baku tanah liat tersebut diperoleh dari pemasok tanah liat untuk keramik dari Sukabumi, Jawa Barat. Dalam pembuatannya, adonan tanah liat yang sudah siap pakai dibentuk dengan menggunakan berbagai teknik pembentukan. Kemudian tanah liat yang sudah dibentuk dibiarkan mengering secara alami dengan cara diangin-angin selama satu minggu. Setelah kering angina-angin, bahan tanah liat yang telah dibentuk itu kemudian dibakar setengah matang pada suhu 900C hingga menjadi biskuit. Setelah dibiarkan tanpa dibakar selama dua hari di dalam tungku pembakaran LPG, biskuit dikeluarkan dari tungku pembakaran dan kemudian diwarnai dengan cara diglasir. Setelah proses pewarnaan selesai, biscuit yang telah diglasir itu kemudian dibakar kembali di dalam tungku dengan suhu hingga 1.200C.
Produk kerajinan keramik yang kini diproduksi Studio Kollekan diantaranya huruf alphabet, kalung dan bross keramik dengan berbagai asesorisnya, mug dengan handle shio, berbagai jenis wadah berbentuk binatang seperti sapi, kanguru dll., tempat lilin, serta berbagai hiasan dinding.
Walaupun usaha produksi keramik yang digeluti Yetty hingga kini masih belum melakukan ekspor secara langsung, namun kalangan pembeli asing dari mancanegara sudah sering datang ke Gallery Kollekan untuk membeli sejumlah barang kerajinan keramik karya cipta Yetty. Dengan dibantu empat orang karyawan, Yetty bersama Gallery Kollekannya saat ini masih memfokuskan kegiatan produksi kerajinan keramiknya untuk memenuhi permintaan di pasar domestik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

liburan ke rumah keramik

keramik sebagai suatu hasil seni dan teknologi

Kulit Telur untuk Mempercantik Produk Keramik