Risman Wijaya Keramik, Gerabah Antik dari Plered
Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat sudah cukup lama dikenal masyarakat di wilayah Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta sebagai sentra produksi keramik dan gerabah.
Bahkan, produk keramik dan gerabah dari Plered, Purwakarta sudah sejak lama dikenal kalangan pembeli dari luar negeri. Produk keramik dan gerabah Plered pun sudah mampu menembus pasar ekspor di sejumlah negara.
Bahkan, produk keramik dan gerabah dari Plered, Purwakarta sudah sejak lama dikenal kalangan pembeli dari luar negeri. Produk keramik dan gerabah Plered pun sudah mampu menembus pasar ekspor di sejumlah negara.
Namun sayangnya, mengingat kebanyakan industri keramik dan gerabah di Plered, Purwakarta umumnya masih tergolong industri kecil menengah atau lebih tepat lagi merupakan industri rumahan (home industry), maka kemampuan permodalan maupun pemasarannya pun masih sangat terbatas.
Karena itu, untuk menutupi berbagai kekurangan dan menggalang kekuatan di antara sesama produsen keramik gerabah skala kecil menengah di Plered, H. Eman Sulaeman SPd. (38 tahun), pengusaha sekaligus pemilik industri keramik/gerabah RWK (Risman Wijaya Keramik), mengambil inisiatif untuk membentuk klaster industri keramik dan gerabah Plered.
Kini terdapat delapan usaha kerajinan gerabah di Plered yang tergabung dalam klaster industri keramik gerabah yang dipimpin Eman.
Sebagai Ketua Klaster Keramik Plered, Eman kini memfokuskan kegiatan pada upaya membangun jaringan pemasaran ke luar negeri.
Hal itu dilakukan karena selama ini kendala utama yang dihadapi kalangan perajin keramik dan gerabah di Plered, Purwakarta adalah masalah pemasaran ekspor ke luar negeri.
Padahal minat pembeli asing terhadap produk keramik dan gerabah Plered cukup tinggi. Di dalam negeri sendiri produk keramik gerabah Plered sudah cukup dikenal dan banyak diminati pembeli.
Namun untuk pasar ekspor sampai saat ini masih sangat tergantung kepada pihak ketiga yang mencari keuntungan diantara produsen dengan konsumen.
Selain kendala pemasaran, kalangan perajin keramik gerabah di Plered, Purwakarta juga mengalami kendala lain yaitu keterbatasan modal kerja.
Keterbatasan modal kerja itulah yang membuat para perajin keramik gerabah di Plered, Purwakarta selama ini menjadi semakin tergantung kepada pihak ketiga.
Sebab, permintaan gerabah dari pasar ekspor yang dilakukan melalui pihak ketiga cukup besar dan perusahaan pihak ketiga itu biasanya memanfaatkan keterbatasan modal kerja yang dialami perajin dengan menyediakan uang muka untuk modal kerja.
Keterbatasan modal kerja itulah yang kemudian menyebabkan para perajin keramik gerabah di Plered, Purwakarta untuk lebih menyukai pemenuhan pesanan dalam bentuk produk gerabah setengah jadi atau dalam terminologi industri keramik gerabah dikenal dengan sebutan produk biskuit.
Padahal harga produk biskuit itu biasanya jauh lebih rendah dari harga produk keramik yang sudah jadi.
Eman memulai usaha industri kerajinan keramik gerabah di Plered pada tahun 1993 setamat menempuh kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung yang kini dikenal dengan nama Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.
Keterampilan membuat gerabah diperoleh Eman secara turun temurun dari keluarga. Keluarga Eman memang memiliki latar belakang sebagai perajin gerabah di Plered. Kakek dan orang tua Eman sudah sejak lama menggeluti industri kerajinan gerabah di kota tersebut.
Kini Eman memfokuskan perhatiannya untuk memproduksi keramik gerabah antik untuk keperluan dekorasi interior dan eksterior seperti berbagai jenis guci, pot bunga, tempat air dan lain-lain.
Karakteristik produk keramik gerabah Eman yang kebanyakan mengambil berbagai bentuk gerabah kuno dan bermotif antik sering kali menimbulkan kesan tempo dulu. Bentuk dan motif kuno dan antik itulah yang kini sedang menjadi trend di pasar dalam negeri maupun di pasar ekspor.
Karena itu, produk-produk gerabah berbentuk atau bermotif antik dan kuno itu kini menjadi andalan Eman dalam merebut pangsa pasar domestik dan ekspor.
Kapasitas produksi gerabah yang dimiliki fasilitas produksi gerabah Eman bersama keluarganya mencapai 3 kontainer per bulan. Dengan kapasitas sebesar itu, rata-rata jumlah gerabah yang diproduksi Eman dan keluarga mencapai 3.000 pieces gerabah (berukuran kecil), 1.200 pieces gerabah berukuran sedang atau 250 pieces gerabah berukuran besar.
Ukuran produk gerabah paling besar yang pernah dibuat Eman dan keluarga sejauh ini adalah bentuk guci dengan ukuran tinggi 1,2 meter.
Selama ini secara rutin Eman telah mendapatkan pesanan untuk pasar ekspor dari pihak ketiga yang setiap bulannya rata-rata mencapai 1.300 keramik gerabah ukuran besar dan 2.000 gerabah ukuran sedang.
Dengan lima tungku pembakaran keramik gerabah tradisional yang dimiliki, Eman dan keluarga mampu menghasilkan sebanyak 3 kontainer produk keramik gerabah setiap bulannya.
Namun selain itu, Eman juga bisa memobilisasi 5 tungku pembakaran lainnya milik saudara-saudaranya yang tergabung dalam klaster industri gerabah di bawah pimpinannya apabila terdapat permintaan pembuatan gerabah dalam jumlah besar.
Dengan demikian, klaster industri keramik dan gerabah pimpinan Eman bisa memasok 5-6 kontainer keramik dan gerabah setiap bulannya.
Untuk memproduksi biskuit keramik/gerabah, Eman memiliki tenaga putar yang terampil sebanyak 18 orang untuk lima tungku.
Namun kalau lima tungku lainnya turut dimobilisasi untuk memenuhi pesanan dalam jumlah besar itu maka Eman bisa mengerahkan tenaga putar terampil cadangan sebanyak 30 orang.
Selain memasok keramik/gerabah antik kepada pembeli di dalam negeri dan kepada pihak ketiga untuk ekspor, Eman biasanya juga memasok gerabah biskuit kepada industri keramik yang lebih hilir seperti Dwiyono Art di Jakarta.
Para pembeli produk keramik dan gerabah Eman kadang-kadang memesan keramik dan gerabah dengan menggunakan desain yang dirancang oleh Eman sendiri, tapi kadang-kadang ada juga pembeli yang membawa desain sendiri.
Tungku pembakaran keramik dan gerabah milik Eman masih dioperasikan secara tradisional dengan menggunakan bahan bakar berupa kayu bakar. Pembakaran dengan menggunakan kayu bakar itu dapat mencapai suhu pembakaran sampai 850 derajat Celcius.
Untuk pengembangan usaha keramik dan gerabahnya, Eman kini sedang merintis kerjasama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam berbagai hal termasuk diantaranya dalam bidang penerapan teknologi dan desain produk gerabah.
Mengenai masalah bahan baku, Eman mengaku sejauh ini tidak mengalami kesulitan karena di sekitar kota Plered, Purwakarta sendiri sudah ada pemasok bahan baku berupa tanah liat (terakota). Namun bahan baku tanah liat itu umumnya belum memiliki standard yang baku.
Ke depan, Eman mengharapkan kualitas bahan baku tanah liat itu bisa lebih ditingkatkan dan harus dapat memenuhi standard yang berlaku di dunia industri gerabah/keramik. Eman juga menyatakan harapannya agar produk keramik dan gerabah produksi para perajin di Plered bisa lebih terstandard, terutama dalam hal kualitas dan ukurannya.
Komentar
Posting Komentar